Langsung ke konten utama

MUSIK TRADISIONAL SEBAGAI PENGIRING TARIAN DAN TEATER


Bentuk seni itu berbeda-beda, seperti seni musik, tari teater dan seni rupa. Keempat cabang seni tersebut saling terhubung satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Walaupun porsi tiap cabang seni berbeda-beda tergantung pada karya apa yang dibuat. Misalnya, seseorang membuat karya pertunjukan tari, maka cabang seni tari lah yang mendapatkan porsi paling banyak dalam karya tersebut, adapun musik didalam sebuah karya tari bertindak sebagai pengiring, bukan sebagai sajian utama dalam pertunjukan karya tersebut.

  1. Musik tradisional sebagai pengiring tarian

Seperti telah disebutkan sebelumnya, dalam sebuah karya tari, musik bertindak atau berperan sebagai pengiring tarian. Namun, jika sebuah tarian tanpa diiringi dengan musik akan terasa kosong, hambar dan kurang. Oleh sebab itu, tari dan musik dalam sebuah karya tari telah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Musik sebagai pengiring tarian, dalam penciptaannya haruslah seirama dengan gerakan tarian yang ditampilkan, karena tujuan penciptaannya untuk digunakan sebagai pengiring gerak tari.

Tari merupakan salah satu cabang seni yang menggunakan media gerak sebagai unsur utamanya. Seorang seniman tari mengekspresikan ide dan gagasannya kedalam gerak yang diperindah. Gerakan - gerakan dasar dalam tari dapat diambil dari gerakan yang biasa dilakukan sehari-hari, seperti bejalan, melambai, dll.

Jenis-jenis tari dapat dibedakan berdasarkan pola gerakannya, yaitu:

  1. Tari tradisional

  1. tari klasik 

berdasarkan pola gerakannya, tari tradisional cenderung memiliki aturan-aturan baku yang tidak boleh dilanggar, seperti pada tari-tari yang berkembang di keraton atau kalangan bangsawan, jenis tari seperti ini disebut juga sebagai tari klasik. Tari jenis ini merupakan tari yang bermutu tinggi karena berasal dan berkembang dikalangan adat yang kuat serta mapan. Sifatnya konvensional yang juga mengandung konsep simbolik ataupun filosofis.

  1. tari rakyat (folklorik)

Selain tari klasik, jenis tari tradisional lainnya yang berasal dan berkembang dari kehidupan sosial atau kelompok masyarakat yang langsung tumbuh/berkembang dikalangan masyarakat tersebut disebut sebagai tari rakyat atau “folklorik”. Tari jenis ini juga lahir dari ungkapan ekspresif masyarakat yang bersifat religius, contohnya seperti tari tor-tor huda, reog ponorogo, ronggeng gunung ciamis, ibing pencak silat, ketuk tilu, dll.

  1. Tari primitif

Jenis tarian ini merupakan tari tradisi yang menunjukan gerak sederhana tanpa adanya stilasi atau gerakan ornamentik. Gerakan sederhana tersebut seperti hentakan kaki, ayunan tubuh, dan gerakan kepala yang walaupun sederhana tetapi sangat intens dan ekspresif karena digunakan untuk pemujaan atau ritual serta merupakan karya total antara manusia, kepercayaan dan lingkungan hidup.

  1. Tari wayang

Jenis tari wayang sedikit berbeda dengan jenis - jenis tari tradisional yang lain, karena, seorang penari bukan hanya membawakan gerak tarian, namun juga harus bisa berakting juga bernyanyi (dalam bentuk tembang). Hal tersebut dikarenakan, tari wayang merupakan bagian dari salah satu pertunjukan wayang orang (wayang wong). 



  1. Tari topeng

Saat seorang penari membawakan gerak tarian dengan menggunakan topeng, ia harus bisa membedakan karakter setiap topeng yang ia pakai melalui gerakan. Hal tersebut menjadi keunikan dari jenis tari tradisional yang satu ini. Tari topeng banyak berkembang di daerah Cirebon dan Indramayu Jawa Barat. Contohnya adalah tari topeng kelana dari Cirebon.

  1. Tari kreasi

Merupakan bentuk tari yang berasal dari kesadaran akan mencipta, mengolah, ataupun mengubah tarian yang menjadi dasarnya. Tari kreasi merupakan media bagi para seniman untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru dibidang tari. Jenis tari kreasi ini ada yang mengacu pada tarian yang sudah ada misalnya gubahan dari tari klasik ataupun tari tradisional. Selain itu, ada juga yang sepenuhnya bersifat eksperimental dan baru. Oleh karena itu, dapat kita sebut sebagai tari kontemporer. Contoh tari kreasi yaitu tari kuda lumping, tari merak, tari jaipong, dll.

Musik dalam tari merupakan unsur penunjang yang tidak terpisahkan satu sama lain. Oleh sebab itu, dapat kita simpulkan bahwa musik didalam sebuah karya tari merupakan suatu pola bunyi-bunyian yang memberikan makna, struktur, dinamika, serta kekuatan dan ekspresi pada gerakan-gerakan tari. Musik sebagai iringan tari dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Musik sebagai pengiring tari

Sebagai pengiring tarian, musik digunakan hanya untuk mengiringi gerak dalam tari saja, tanpa memberikan pengaruh yang terlalu besar pada sebuah tarian. Contohnya tari piring, tor-tor, dll.



  1. Musik sebagai ilustrasi dalam tari

Musik yang dikategorikan sebagai ilustrasi dalam sebuah tarian hanya berperan sebagai penunjang dalam sebuah pertunjukan tari. Musik disini bertindak sebagai pemberi ilustrasi dan suasana kepada penari, agar gerakan yang dilakukan oleh sang penari lebih bermakna sehingga pesan yang ingin disampaikan lebih cepat dimengerti oleh apresiator dan penonton. Contohnya biasanya ada pada jenis tari kontemporer dan juga tari wayang.

  1. Musik sebagai pasangan gerak

Peran musik didalam sebuah tarian bukan hanya sebagai pengiring atau latar, namun, dapat memberikan karakter terhadap sebuah gerakan tari, untuk dapat bersama-sama mengekspresikan maksud dari sebuah tarian. Pada musik jenis ini, biasanya terdapat bagian musikal dan gerak yang sengaja dibuat sama, maksudnya, pola ritmis musik dibuat mengikuti gerakan tari. Misalnya pada tari kreasi seperti jaipong, tari merak, dll.

Tari hampir tak pernah lepas dari musik, bahkan dalam beberapa jenis tarian, nama tarian sama dengan nama musiknya, contohnya seperti tari jaipong di Jawa Barat. Tanpa melihat gerakan tariannya pun kita sudah bisa menebak bahwa musik yang dimainkan adalah musik yang digunakan untuk mengiringi tari jaipong. Disamping struktur musikalnya secara keseluruhan, musik jaipong memiliki ciri khas pada pola tabuh kendangnya. 


  1. Musik tradisional sebagai pengiring teater

Selain sebagai pengiring tari, musik dapat disajikan untuk mengiringi seni peran atau teater. Tentu saja, sama seperti pengiring tari, musik disini pun bertindak sebagai penunjang pertunjukan. Oleh sebab itu, musik yang dibuat tidak sebebas seperti pertunjukan musik mandiri, namun, harus menyesuaikan dengan naskah yang dipentaskan.

Kata teater berasal dari bahasa Yunani “theatron” yang artinya “tempat” atau “gedung pertunjukan”. Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.

Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia. Unsur-unsur teater dalam urutannya meliputi:

  1. Tubuh manusia sebagai unsur utama (pemeran/pelaku/pemain/aktor);

  2. Gerak sebagai unsur penunjang (gerak tubuh, gerak suara, gerak bunyi dan gerak rupa);

  3. Suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog, ucapan pemeran);

  4. Bunyi sebagai efek penunjang (bunyi benda, efek dan musik);

  5. Rupa sebbagai unsur penunjang (cahaya, dekorasi, rias, dan kostum);

  6. Lakon sebagai unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi).

Dalam pertunjukan teater, musik sangatlah erat kaitannya, sehingga ada yang menyebutkan pertunjukan teater dengan didukung aktor yang baik pun akan masih terasa “hambar” jika tidak didukung oleh penataan musik yang sesuai dengan konteks cerita yang disajikan. Selain berpengaruh terhadap aktor (emosi aktor dapat dicapai melalui musik), juga berpengaruh terhadap emosi penonton dalam menuntun atau mengapresiasi sebuah karya teater.

Musik untuk teater pada penggarapannya sangatlah bebas bentuknya, dalam arti musik disesuaikan dengan adegan pada naskah. Meskipun demikian, musik pada teater bukanlah sekedar musik “pelengkap” yang hanya berfungsi sebagai “pengekor” pada naskah. Pada proses penggarapan musik teater harus selalu ada kesepakatan antara seorang penata musik, sutradara, dan aktor tentang kesesuaian musik dengan adegan atau sebaliknya, adegan yang menyesuaikan terhadap musik.

Musik pada pertunjukan teater pada dasarnya berfungsi sebagai “penguat” sebuah cerita yang terdapat pada naskah. Namun, pada kenyataannya musik pada teater bisa berfungsi lebih dan berperan sangat penting. Terdapat beberapa fungsi dan peranan musik sebagai ilustrasi pada pertunjukan teater, yaitu :

  1. Musik pembuka

Berfungsi untuk memusatkan perhatian penonton pada pertunjukan yang akan disajikan, sekaligus memberitahukan bahwa pertunjukan akan dimulai. Oleh karena fungsinya untuk memusatka perhatian penonton, maka komposisi musik pembuka harus dapat menarik perhatian penonton.

  1. Musik pergantian babak

Setiap pergantian babak pada pertunjukan teater alangkah baiknya dan senantiasa diciptakan komposisi musik yang relatif pendek. Komposisi musik ini berfungsi untuk menjaga stabilitas emosi penonton dalam menghantarkan suasana ke babak selanjutnya, selain berfungsi juga sebagai persiapan pada aktor dan stage crew.

  1. Musik penutup

Musik yang berfungsi untuk memberitahukan penonton bahwa pertunjukan telah selesai. Musik penutup ini memungkinkan sekali terjadi kesamaan bentuk komposisinya dengan musik pembuka atau dengan musik lainnya.

  1. Musik Ilustrasi

Musik yang berfungsi membantu mengungkapkan suasana batin aktor dalam penokohan yang ada dalam cerita pada babak atau adegan tertentu. Komposisi musik ini harus bisa membantu aktor dalam mengungkapkan ini hati si aktor, oleh karenanya proses dialog dan kesepakatan antara aktor dan penata musik sangat diperlukan.

  1. Musik penokohan

Komposisi musik yang digarap khusus sebagai ciri khas dari kemunculan seorang tokoh. Musik ini harus bisa menjelaskan dan menggambarkan karakter tokoh yang muncul, sehingga penonton akan tahu bahwa dengan dimainkannya musik tersebut berarti akan muncul tokoh yang menjadi ciri daripada musik tersebut.

  1. Musik aksentuasi

Berfungsi untuk memperjelas maksud dari gerakan aktor. Meskipun pada kenyataanya suatu gerakan manusia tidak berbunyi secara jelas, misalnya ketika dalam sebuah cerita seseorang dikisahkan memukul lawannya, untuk memperjelas gerakan tersebut maka dipertebal dan diperjelas melalui musik aksentuasi.

  1. Musik setting

Musik yang menyajikan atau mengungkapkan tempat dan waktu terjadinya suatu peristiwa. Salah satu contoh misalnya peristiwa malam hari disebuah hutan atau disuatu pedesaan, musik mempunyai peranan penting untuk mengungkapkan keadaan tersebut secara auditif melalui bunyi-bunyi asosiatif atau kreatif tentang suasana tersebut. Secara teknis iringan musik ini harus ada kesinambungan antara suasana, gerak dan musik.

  1. Musik pelebur emosi

Artinya menghancurkan atau membuyarkan emosi yang telah terbimbing dari adegan-adegan sebelumnya, kemudian dilebur secara sengaja agar penonton sadar bahwa yang mereka lakukan hanyalah sebuah sandiwara.

Dari pemaparan diatas, sangatlah jelas bahwa keberadaan musik pada pertunjukan teater bukan hanya sebagai “pelengkap” saja, akan tetapi mempunyai peranan, makna, dan fungsi yang sangat penting serta memegang peran inti dalam kelancaran sebuah pementasan teater, karena dengan penataan musik yang sesuai dengan tema cerita akan semakin menguatkan maksud dari skenario dan membantu aktor dalam memainkan sebuah adegan yang diperankan.

Teater di Indonesia telah berkembang cukup lama, hal ini tergantung pada masyarakat pendukungnya. Dilihat dari pendukungnya, bentuk teater terdiri dari beberapa jenis teater antara lain :

  1. Teater rakyat

Yaitu teater yang didukung oleh masyarakat kalangan pedesaan , bentuk teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dan lain-lain.

  1. Teater Keraton

Yaitu teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewadewa . Contoh : teater Wayang.

  1. Teater Urban atau kota-kota.

Teater ini masih membawa idiom bentuk rakyat dan keraton. Teater jenis ini lahir dari kebutuhan yang timbul dengan tumbuhnya kelompok-kelompok baru dalam masyarakat dan sebagai produk dari kebutuhan baru, sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.

  1. Teater kontemporer

Yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan sebagai individu. Dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas. Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini.

Sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh dan berkembang secara turun menurun. Kegiatan ini masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan. Misalnya, untuk memulai menanam padi harus diadakan upacara khusus untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan. Juga ketika panen, sebagai ucapan terima kasih maka dilaksanakan upacara panen. Juga peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/ status dan kematian) selalu ditandai dengan peristiwa-peristiwa teater dengan penampilan berupa tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tata cara yang unik dan menarik.

Ada beberapa seni teater tradisional yang sudah berkembang di Indonesia. Masing-masing daerah memiliki ciri dan kekhasan sendiri dalam pertunjukannya. Hal tersebut bisa dilihat dari cerita, latar, tokoh, bahasa yang digunakan, bahkan musiknya yang memiliki karakteristik masyarakat di daerahnya masing-masing. Di bawah ini adalah beberapa jenis teater tradisional Indonesia yang mungkin bisa kamu lihat di beberapa media, diantaranya :

  1. Wayang

Wayang merupakan salah satu pertunjukan teater yang berkembang di daerah Jawa dan Bali. Di Indonesia terdapat beberapa jenis teater wayang seperti, wayang golek di Jawa Barat, wayang kulit di Jawa Tengah, wayang wong di Jawa Tengah. 

Ciri khas pertunjukan wayang disamping terdapat adegan teater juga ditambah dengan unsur tarian dan musik yang biasanya menggunakan alat musik berupa gamelan.

  1. Makyong

Makyong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Nama makyong berasal dari mak hyang, nama lain untuk dewi sri, dewi padi. Makyong adalah teater tradisional yang Salah satu adegan Wayang Wong berasal dari Pulau Bintan, Riau. 

Makyong dipentaskan pada siang atau malam hari dengan lama pementasan bisa mencapai kurang lebih tiga jam. Didalamnya terdapat unsur musik berupa nyanyian dan alat musik berupa gendang, rebab, dan tetawak (gong).

  1. Drama Gong

Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali). 

Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut “drama klasik”. Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar).

  1. Randai

Randai adalah kesenian (teater) khas masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat yang dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Randai dapat diartikan sebagai “bersenang - senang sambil membentuk lingkaran” karena memang pemainnya berdiri dalam sebuah lingkaran besar bergaris tengah yang panjangnya lima sampai delapan meter.
Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat Minangkabau, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Kesenian randai yang kaya dengan nilai etika dan estetika adat Minangkabau ini, merupakan hasil penggabungan dari beberapa macam seni, seperti: drama (teater), seni musik, tari dan pencak silat. Alat musik yang digunakan gendang, saluang, dan talempong.

  1. Mamanda

Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup. Istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. 

Mamanda secara etimologis terdiri dari kata “mama” (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan. Alat musik yang digunakan, gendang, biola, serunai atau suling, kadang ditambah pula dengan akordeon.

  1. Longser

Longser merupakan salah satu bentuk teater tradisional masyarakat sunda, Jawa barat. Longser berasal dari akronim kata melong (melihat dengan kekaguman) dan saredet (tergugah) yang artinya barang siapa yang melihat pertunjukan longser, maka hatinya akan tergugah. 

Longser yang penekanannya pada tarian disebut ogel atau doger. Sebelum longser lahir dan berkembang, terdapat bentuk teater tradisional yang disebut lengger. Kekhasannya ada lampu oncor atau obor dengan tiga buah sumbu. Alat musik pengiring yang digunakan biasanya gamelan baik gamelan pelog, salendro, atau degung.

 

  1. Ketoprak

Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Kata ‘kethoprak’ berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata Tiprak ini bermula dari prak. 

Karena bunyi tiprak adalah prak, prak, prak. Ketoprak juga berasal dari kothekan atau gejogan. Alat bunyi-bunyian yang berupa lesung oleh pencipta ketoprak ditambah kendang dan seruling. Pada perkembangannya sudah ada pertunjukan ketoprak dengan menggunakan gamelan jawa.

  1. Ludruk

Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang digelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari (cerita wong cilik), cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. 

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan masyarakat. Alat musik yang digunakan berupa gamelan jawa yang sekarang perkembangannya ditambah pula alat musik modern keybord karena sering diselingi hiburan menampilkan lagu-lagu campursari.

  1. Lenong

Lenong adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi, Jakarta. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong. Konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya. 

Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Kesenian tradisional ini diiringi musik gambang kromong dengan alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.

  1. Ubrug

Istilah ubrug berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsur lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). 

Alat musik yang biasa dimainkan dalam pementasan adalah gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk. Selain berkembang di provinsi Banten, kesenian Ubrug pun berkembang sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan yang tentunya dipentaskan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Teater Ubrug pada awalnya dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda daun kelapa atau rubia. Untuk penerangan digunakan lampu blancong, yaitu lampu minyak tanah yang bersumbu dua buah dan cukup besar yang diletakkan di tengah arena.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah, Jenis, Teknik Memainkan dan Tangga Nada pada Alat Musik Kecapi

Kecapi merupakan alat musik tradisional dari Sunda atau Jawa Barat yang dimainkan dengan cara dipetik. Kecapi sudah ada sejak dulu, tetapi kebanyakan masyarakat belum semua mengetahui tentang alat musik ini, kebanyakannya masyarakat mengenal kecapi itu adalah buah atau pohon bukan sebagai alat musik. Berdasarkan opini tersebut , maka perlu adanya penjelasan atau pemahaman mengenai alat musik kecapi. Oleh karena itu dalam artikel ini akan dijelaskan mengenai sejarah, jenis, teknik memainkan dan tangga nada pada alat musik kecapi. Untuk lebih mengetahuinya, simaklah pemaparan mengenai kecapi dibawah ini. a.        Sejarah Kecapi berasal dari China yang memiliki nama lain yaitu ghuzeng . Ghuzeng atau kecapi Tiongkok merupakan salah satu alat musik warisan tradisi yang paling populer. Alat musik kecapi dalam bahasa sunda merujuk pada tanaman sentul yang dipercaya kayu nya digunakan untuk membuat alat musik kecapi. Kecapi merupan alat musik klasik yang ...

APRESIASI SENI MUSIK TRADISIONAL